Thursday, May 24, 2012

Ciptakan Sepatu Batik Trendi untuk Anak Muda

Agnes Tandia


Kuliah di Kriya Tekstil ITB membuat Agnes sangat akrab dengan dunia fashion. Sebagai wanita yangsangat aktif, Agnes yang ketika itu masih duduk di bangku kuliah mencoba untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat jaket berbahan batik.

“Waktu itu sekitar tahun 2008 saya mulai mencoba membuat jaket batik karena memang masih jarang, namun ternyata respon masyarakat tidak terlalu bagus untuk produk yang satu ini,” ungkap mojang Priangan ini.

Tidak sukses dengan produk jaket batiknya,Agnes mencoba membuat kreasi lain dari bahan batik dan produk yang dipilihnya adalah sepatu. Untuk merintis usaha sepatu batik tersebut ia hanya mengeluarkan modal sebesar Rp 1,5 juta untuk membuat dua lusin sepatu batik, Seperti diungkapkan Agnes, produk perdana sepatu batiknya tersebut ia pertama kali ia perkenalkan ke masyarakat ialah pada saat pameran Inacraft tahun 2009 yang lalu. Di luar dugaan ternyata dua lusin sepatu batik yang dibawa dari Bandung banyak diminati dan habis terjual. “Saya gak menyangka ternyata di pameran sepatunya laris manis terjual,dan melihat respon yang sangat baik tersebut saya mulai memproduksi di Bandung,” kenang Agnes.
Bahan Perca Batik. Pada umumnya bahan sepatu wanita terbuat dari bahan kulit asli tanpa tambahan bahan apapun sehingga membuat tampilan sepatu kurang menarik. Namun di tangan Agnes sepatu wanita berbahan kulit tersebut disulapnya menjadi sesuatu yang lebih menarik dan kreatif dengan menggunakan bahan tambahan sisa/ perca batik sama seperti bahan yang digunakannya untuk membuat jaket batik. “Untuk bahan utamanya tetap menggunakan kulit agar lebih kuat,” jelas Agnes.

Menurut Agnes alasannya memakai kain percabatik pada sepatu ialah agar lebih mengangkat tradisi Nusantara yang memang terkenal dengan batiknya. Selain itu dengan menggunakan bahan batik ia juga mengajak anak muda untuk mencintai tradisi bangsanya sendiri. “Dahulu batik terutama baju batikdipakai untuk acara-acara resmi, tetapi dengan adanya sepatu batik saya berharap batik dapat digunakan setiap hari tanpa mengenal waktu,” terang Agnes.

Sepatu Kulkith
Jenis batik yang digunakan Agnes untuk sepatunya adalah batik dari wilayah Jawa Barat seperti batik Cirebon, batik Tasikmalaya, dan batik Garut. Batik dari wilayah Jawa Barat dipilih karena memang memiliki warna-warna cerah dan sangat cocok dengan tampilan untuk kalangan muda. Beda halnya dengan batik dari daerah Jawa Tengahseperti Solo dan Yogyakarta yang memiliki warna sedikit gelap sehingga menampilkan kesan formal. “Karena mangsa sepatu batik ini anak muda maka saya lebih menyukai dan memilih batik khas Jawa Barat karena tampilan warna-warnanya cerah,” tuturnya.

Sepatu batik yang pertama kali dibuat Agnes adalahsepatu dengan model flat yang pinggirnya dilapisi batikdengan warna-warna cerah. Nmaun kini dengan banyaknya permintaan dan untuk memberikan pilihan variasi kepada para konsumen Agnes mulai mengembangkan model lain seperti model wedges dan juga sandal batik. Harga yang ditawarkanAgnes sangat bervariasi tergantung jenis sepatunya. Sepatu flat jenis ADBLACK, K-Parawn, AdGrey, Fanta, dan K-Blue Purple seharga Rp 190 ribu, sepatu wedges jenis WED-Koi BG dan WED-Carmega Rp 205 ribu, dan Wingtip Brown Rp 185 ribu. “Saat ini saya sedang mengembangkan produk terbaru yaitu jenis sepatu boot model Kenisorea dengan motif batik,” ungkapnya.
Pemasaran. Selama ini usaha Agnes mampubbertahan berkat berjualan secara online dengan membuat website khusus yang ia namankan www.kulkithshoes.com. Agnes mengaku dengan menggunakan media online produk sepatu batiknya bisa dikenal luas oleh masyaratkat. Selain menggunakan media online, untuk mempromosikan sepatu batiknya Agnes kerap mengikuti event pameran seperti Inacraft, Pameran wirausaha mandiri, dan bazaar-bazaar yang diadakan oleh kampusnya. “Acara pameran jugasangat efektif dalam memperkenalkan produk sepatu batik ini,” jelas Agnes.

halaman depan website Kulkith

Berkat kerja kerasnya, produk sepatu batik buatan Agnes bukan saja dikenal oleh masyarakat dalam negri, namun kini sepatu yang menonjolkan cirri khas Indonesia ini sudah dikenal oleh masyarakat dunia. Beberapa Negara yang memesan sepatu batik buatan Agnes seperti Malaysia, Belanda, Brunei Darussalam, Singapura dan Kanada. “Hampir tiap bulan saya mengirim sepatu batik ke Malaysia karena di sana saya telah memiliki Reseller,” tegas wanita yang saat ini sedang melanjutkan studi di S2 jurusan Fashion di ITB. Dengan dibantu oleh enam orang karyawan kini tiap bulannya Agnes dapat menjual 600 pasang sepatu batik dari berbagai  jenis dan omset yang didapatnya bisa mencapai sekitar Rp 114 juta per bulan. Menurut Agnes usaha ini mampu berkembang berkat kreativitas dengan mengangkat batik agar tetap eksis di tengah kalangan muda.
Kesuksesan yang dicapai Agnes dengan mengembangkan sepatu batik tidak membuat Agnes lupa dengan kegiatan social untuk saling berbagi. Saat menjelang puasa ia sering mengadakan rutin buka puasa bersama anak yatim yang dilakukannya di kediaman Agnes di Bandung, JawaBarat. Agnes mengakui bahwa menjalankan usaha sambil memberikan sedikit kelebihan dari penghasilan untuk orang yang membutuhkan merupakan hikmah tersendiri.

Seperti dikatakan Agnes kunci sukses dalam menjalankan usaha yang ia lakukan sebenarnya tidak banyak yaitu jangan takut untuk memulai usaha, terus belajar dengan hal baru, dan terus melestarikan budaya bangsa. Rencana ke depan Agnes ingin melebarkan sayap usaha ke bidang lain seperti hiasan lampu, aksesoris, dan sebagainya tanpa menghilangkan kareakter batik sebagai cirri khas bangsa. 


Sumber: Tabloid Peluang Wirausaha Edisi 10 Th VI

2 comments:

  1. terima kasih atas informasinya..
    semoga bermanfaat bagi kita semua mobil Masa Depan

    sukses selalu

    ReplyDelete
  2. Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga

    kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update!Harga toyota corolla bekas

    ReplyDelete