![]() |
| Agnes Tandia |
Kuliah di Kriya Tekstil ITB membuat Agnes sangat akrab
dengan dunia fashion. Sebagai wanita yangsangat aktif, Agnes yang ketika itu
masih duduk di bangku kuliah mencoba untuk mengisi waktu luangnya dengan
membuat jaket berbahan batik.
“Waktu itu sekitar tahun 2008 saya mulai mencoba membuat
jaket batik karena memang masih jarang, namun ternyata respon masyarakat tidak
terlalu bagus untuk produk yang satu ini,” ungkap mojang Priangan ini.
Tidak sukses dengan produk jaket batiknya,Agnes mencoba
membuat kreasi lain dari bahan batik dan produk yang dipilihnya adalah sepatu.
Untuk merintis usaha sepatu batik tersebut ia hanya mengeluarkan modal sebesar
Rp 1,5 juta untuk membuat dua lusin sepatu batik, Seperti diungkapkan Agnes, produk
perdana sepatu batiknya tersebut ia pertama kali ia perkenalkan ke masyarakat
ialah pada saat pameran Inacraft tahun
2009 yang lalu. Di luar dugaan ternyata dua lusin sepatu batik yang dibawa dari
Bandung banyak diminati dan habis terjual. “Saya gak menyangka ternyata di
pameran sepatunya laris manis terjual,dan melihat respon yang sangat baik
tersebut saya mulai memproduksi di Bandung,” kenang Agnes.
Bahan Perca Batik. Pada umumnya bahan sepatu wanita terbuat
dari bahan kulit asli tanpa tambahan bahan apapun sehingga membuat tampilan
sepatu kurang menarik. Namun di tangan Agnes sepatu wanita berbahan kulit
tersebut disulapnya menjadi sesuatu yang lebih menarik dan kreatif dengan
menggunakan bahan tambahan sisa/ perca batik sama seperti bahan yang
digunakannya untuk membuat jaket batik. “Untuk bahan utamanya tetap menggunakan
kulit agar lebih kuat,” jelas Agnes.
Menurut Agnes alasannya memakai kain percabatik pada sepatu
ialah agar lebih mengangkat tradisi Nusantara yang memang terkenal dengan
batiknya. Selain itu dengan menggunakan bahan batik ia juga mengajak anak muda
untuk mencintai tradisi bangsanya sendiri. “Dahulu batik terutama baju
batikdipakai untuk acara-acara resmi, tetapi dengan adanya sepatu batik saya
berharap batik dapat digunakan setiap hari tanpa mengenal waktu,” terang Agnes.
![]() |
| Sepatu Kulkith |
Jenis batik yang digunakan Agnes untuk sepatunya adalah
batik dari wilayah Jawa Barat seperti batik Cirebon, batik Tasikmalaya, dan
batik Garut. Batik dari wilayah Jawa Barat dipilih karena memang memiliki
warna-warna cerah dan sangat cocok dengan tampilan untuk kalangan muda. Beda
halnya dengan batik dari daerah Jawa Tengahseperti Solo dan Yogyakarta yang
memiliki warna sedikit gelap sehingga menampilkan kesan formal. “Karena mangsa
sepatu batik ini anak muda maka saya lebih menyukai dan memilih batik khas Jawa
Barat karena tampilan warna-warnanya cerah,” tuturnya.
Sepatu batik yang pertama kali dibuat Agnes adalahsepatu
dengan model flat yang pinggirnya dilapisi batikdengan warna-warna cerah. Nmaun
kini dengan banyaknya permintaan dan untuk memberikan pilihan variasi kepada
para konsumen Agnes mulai mengembangkan model lain seperti model wedges dan
juga sandal batik. Harga yang ditawarkanAgnes sangat bervariasi tergantung
jenis sepatunya. Sepatu flat jenis ADBLACK, K-Parawn, AdGrey, Fanta, dan K-Blue
Purple seharga Rp 190 ribu, sepatu wedges jenis WED-Koi BG dan WED-Carmega Rp
205 ribu, dan Wingtip Brown Rp 185 ribu. “Saat ini saya sedang mengembangkan
produk terbaru yaitu jenis sepatu boot model Kenisorea dengan motif batik,”
ungkapnya.
Pemasaran. Selama ini usaha Agnes mampubbertahan berkat
berjualan secara online dengan membuat website khusus yang ia namankan www.kulkithshoes.com. Agnes mengaku
dengan menggunakan media online produk sepatu batiknya bisa dikenal luas oleh
masyaratkat. Selain menggunakan media online, untuk mempromosikan sepatu
batiknya Agnes kerap mengikuti event pameran seperti Inacraft, Pameran
wirausaha mandiri, dan bazaar-bazaar yang diadakan oleh kampusnya. “Acara
pameran jugasangat efektif dalam memperkenalkan produk sepatu batik ini,” jelas
Agnes.
| halaman depan website Kulkith |
Berkat kerja kerasnya, produk sepatu batik buatan Agnes
bukan saja dikenal oleh masyarakat dalam negri, namun kini sepatu yang
menonjolkan cirri khas Indonesia ini sudah dikenal oleh masyarakat dunia.
Beberapa Negara yang memesan sepatu batik buatan Agnes seperti Malaysia,
Belanda, Brunei Darussalam, Singapura dan Kanada. “Hampir tiap bulan saya
mengirim sepatu batik ke Malaysia karena di sana saya telah memiliki Reseller,”
tegas wanita yang saat ini sedang melanjutkan studi di S2 jurusan Fashion di
ITB. Dengan dibantu oleh enam orang karyawan kini tiap bulannya Agnes dapat
menjual 600 pasang sepatu batik dari berbagai
jenis dan omset yang didapatnya bisa mencapai sekitar Rp 114 juta per
bulan. Menurut Agnes usaha ini mampu berkembang berkat kreativitas dengan
mengangkat batik agar tetap eksis di tengah kalangan muda.
Kesuksesan yang dicapai Agnes dengan mengembangkan sepatu
batik tidak membuat Agnes lupa dengan kegiatan social untuk saling berbagi.
Saat menjelang puasa ia sering mengadakan rutin buka puasa bersama anak yatim
yang dilakukannya di kediaman Agnes di Bandung, JawaBarat. Agnes mengakui bahwa
menjalankan usaha sambil memberikan sedikit kelebihan dari penghasilan untuk orang
yang membutuhkan merupakan hikmah tersendiri.
Sumber: Tabloid Peluang Wirausaha Edisi 10 Th VI

